Tuesday, July 14, 2009

Solo, Kota Bengawan lautan api !
……Mengumpulkan debu Mei 98 di Kota Solo.


Dalam benak saya selama ini, kota Solo…itu mewakili 2 hal. Yang pertama adalah kerajinan batiknya. Hampir bisa dibilang semua produk batik itu bersumber dari Solo, sampai2 baju dan kain batik yang saya beli di Balipun punya label bertuliskan Batik Solo. Hal kedua adalah gambaran kelemah lembutan seorang putri keraton Solo. Kemayu, berbudi halus dan gemulai. Bener kan ya ?

Tapi ternyata Solo bukan kota yang tenang dan selembut putri keratonnya. Terbukti dengan banyaknya konflik internal yang kerap memicu kerusuhan berskala besar kecil dengan berbagai latar belakang alasan, soal pembagian lahan perkebunan, masalah etnis dan agama sampai urusan tendang menendang bola atau trek-trekan/balapan. Ini sudah berlangsung sejak jaman kolonial Belanda dan terus bergejolak sampai jaman reformasi ini, bagaikan kawah gunung aktif yang senantiasa bisa meletus kapan saja.

Menengok balik pada peristiwa tanggal 14 Mei 1998, ketika Ibukota Jakarta menjadi pusat perhatian dunia karena tragedi kemanusiaan tengah berlangsung tanpa usaha pencegahan…….Solo mungil kita juga ikut2an menjadi LAUTAN API.

Kerusuhan Mei 98 yang dianggap warga kota Solo sebagai kerusuhan terburuk ini dampaknya bukan main-main. Dari segi kwantitas, dibandingkan dengan Jakarta (5.723 rumah), jumlah bangunan yang dirusak dan dibakar memang tidak seberapa (348 rumah termasuk salah satunya adalah rumah milik Harmoko) Dibandingkan Jakarta (1.948 kendaraan), jumlah mobil dan motor yang hangus dan hancur memang lebih sedikit (297 mobil dan 570 motor). Dibandingkan Jakarta (1.308 orang) jumlah korban yang meninggal dan luka hanya 8 % yaitu 107 orang.

Tapi……kalau ditubuh Jakarta, kerusuhan Mei 98 hanya membuat luka berdarah di beberapa ruas badan dan menganga selama 3-7 hari. Maka yang terjadi di Solo adalah, serangan di pusat jantung ekonomi yang membuat Solo lumpuh secara keseluruhan 2 bulan lamanya. Dua bulan penuh kesunyian di sepanjang jalan protokol Slamet Riyadi sampai alun2 utara karena ratusan toko, toserba, departemen store, dealer mobil, Bank, hotel, restoran, diskotik, terminal bus, bioskop 21 satu2nya hangus terbakar. Dan masyarakat Solo pun berkabung penuh kepedihan melihat roda ekonomi kota Solo yang dinamis hancur dengan sangat parah dan menyisakan pengangguran kerja, kaburnya investor dan bisnis skala rumah tangga terseok2 untuk bangkit.

Setelah 11 tahun berlalu, saya ga tau apakah warga kota Solo mulai melupakan tragedi Mei 98 ini seperti layaknya orang2 sibuk di Jakarta. Namun kalau menyimak bahwa sudah banyak kerusuhan menimpa warga Solo bertubi-tubi, dari dulu sampai sekarang, besar maupun kecil2an tanpa ada satupun pihak yang serius memperhatikan dampak mentalisme warga maka sekiranya warga Solo juga perlu melakukan Gebrakan Anti Lupa (GAL) Mei 98. Seluruh warga kota Solo harus dengan sadar mau membuka dialog/diskusi horizontal dan vertikal, juga mengusahakan pendidikan bagi warganya guna menanamkan benih2 persatuan antar agama, antar ras, juga persamaan hak asasi manusia di segala lapisan. Dan terakhir dan yang terpenting memperjuangkan bahwasanya citra kota Solo sebagai kota kerusuhan bukanlah label paten yang harus ditelen mentah2 begitu saja. Citra itu harus dan…. bisa dirubah, karena kota Solo adalah salah satu kota sumber kebanggaan Negeri kita ini, yaitu kebudayaan batiknya yang begitu khas mempesona. Dan karena bagaimanapun saya yakin tidak ada satupun masyarakat Solo yang mau kotanya hancur secara perlahan. Tidak ada satupun warga Solo yang sudi melihat puing2 bangunan runtuh (yang tidak mampu dibangun lagi) menjadi hiasan kota tercinta mereka.

Berikut adalah Debu Mei 98 yang saya pungut dari sudut kota Solo…..

Khresna B.S ( tinggal di belakang toko SE, Purwosari )
Saat itu puncak kegundahan mahasiswa Solo untuk segera melengserkan penguasa saat itu. Jam 9 pagi, aksi besar-besaran diadakan di kampus UNS. seperti biasa, aksi yang targetnya adalah turun ke jalan (Bundaran Gladak dan Balaikota) di blok oleh (kalo tidak salah) 2 SSK Dalmas, lengkap dengan water canon, peluru karet (dan tajam), pentungan, perisai, dll. Sedangkan mahasiswa
UNS dan dari beberapa elemen mahasiswa tidak bersenjata apapun. Sekitar jam 11.30 gesekan antara demonstran dengan aparat meledak, yang bermula dari aksi saling dorong mendorong, polisi menembakkan gas air mata, dan randomize shooting ke arah mahasiswa. Kami membalas dengan lemparan paving blok yg tersedia di buleverd UNS. Yah.. hasil sudah bisa ditebak. Beberapa teman, berdarah2 dan bocor dimana2. Aksi akhirnya berhenti setelah kita sepakat tidak turun ke jalan dan akan mengadakan aksi lagi (dan lagi).
Di hari yang sama, di kampus UMS Pabelan, teradapat aksi yang serupa. Sebagian teman yang tidak puas dengan aksi di UNS, ikut gabung ke UMS. Namun karena kurang sigapnya korlap aksi, ternyata selama aksi berlangsung terdapat beberapa penyusup, penunggang, pengamen, anak jalanan, preman, mungkin intel dll yang sengaja membakar massa supaya cepat panas. Aksi berlangsung rusuh. Polisi membabi buta menembakkan peluru karet. (menurut sumber) berawalnya kerusuhan Solo dimulai dari aksi ini. Massa (non-mahasiswa) yang juga ikut dalam aksi tersebut merasa tidak puas, marah, dan tanpa komando yang jelas mulai bergerak ke arah kota. Saat itu aksi di UNS sudah selesai.

Kerusuhan pun dimulai dari saat itu, massa mulai melempar batu ke kaca2 toko dari arah Pabelan ke pusat Kota. Semakin lama massa semakin banyak dan entah dari mana bisa mendapatkan ransum minuman keras (ciu), pil koplo, bom molotov, dll. Massa tidak terkendali, kerusuhan, penjarahan, bakar2an, dll.. dimulai. Tidak ada polisi, tentara yang mencegah. Aksi masih berlangsung sampai sekitar jam 9 malam. Setelah itu, kopassus turun.
Jadi aksi tersebut bukan murni dari mahasiswa, tapi lebih ke massa yang ditunggangi oknum yang tidak jelas asal usulnya.

Saya tinggal di daerah purwosari, belakang toko SE, BCA, BHS yang habis dibakar massa. Daerah saya itu daerah MERAH (kandang banteng). Saat itu saya gak ikut2, cuman ngelus dada, dan berucap astaghfirulllah.. yah, yang namanya sumbu pendek Solo emang benar2 terbukti. Setahun kemudian, aksi bakar2an terjadi lagi kan (saat Megawati gak jadi presiden) yang jadi korban balaikota Surakarta.

Arifin E. ( tinggal di daerah Dlanggu )
Wah sadis, ada kejadian bakar-bakaran, dan yg tidak saya lupakan sampe sekarang ada 'Ayam bakar wong Solo'. Kejadian di Solo hanya dibeberapa titik saja, dan tidak seheboh yg ada diberita dan foto.

Ready T. ( Tinggal di belakang RRI Solo, selatan Stasiun Balapan )
Waktu itu abis kuliah siang sekitar jam 11, aku dan beberapa kawan maen ke rumah temen di kawasan Palur. Di radio kami mendengar demo di UMS makin memanas. Sekitar pukul 5.30 sore pas pulang ternyata Solo dah terbakar. Bis2 bergelimpangan terbakar di sepanjang jalan Ir.Soetami.

Ahmad R. ( tinggal Jl. Muh Yamin, deket Matahari Singosaren )
Yang saya lihat: sejumlah massa menjarah toko2 terutama milik orang keturunan Cina. Hampir semua toko milik orang keturunan dijarah dan dibakar, kecuali untuk beberapa toko yg katanya dapat jaminan dari tokoh masyarakat setempat agak terselamatkan dengan beberapa barang bisa diamankan. Yang jelas yang berbau 'CINA' ludes... Cuman yg tampak 'terorganisir/terencana' untuk mal penjarahan dan pembakarannya. Tidak ada pengamanan yang berarti dari pihak berwajib, yang ada pengamanan yang spontan dan swadaya dari masyarakat di kampung2 masing karena malam mati lampu dan mencekam.

Setyo M. ( tinggal di Solo baru )
Waktu itu aku masih kecil, jadi belum begitu ngerti. But, aku emang juga liat kejadian pasti di Kota Solo ini, aku inget pas diajak papa jalan2 liat kerusuhan (..hehe..jalan2 koq nonton kerusuhan ).Waktu itu Solo emang bener2 ancur dibakar massa, banyak bangunan dibakar kecuali yang bertuliskan ASLI PRIBUMI, entah kenapa kaum non pribumi waktu itu jadi sasaran. Kejadian yang paling aku inget, ada cewek chinese di depan rumahnya, di daerah Pasar Legi dikeroyok rame2 sama sekelompok orang (red-diperkosa), sampai waktu itu aku gak boleh liat sama papa, ditutupin mataku. Teryata setelah aku udah gede, cerita itu benar, banyak cewek chinese yang jadi korban seperti di atas.


‘ Papa Hau ‘ ( arti Papa : Ayah ; arti Hau : Baik )

Disutradarai oleh pemuda belia usia 19 tahun kelahiran Makasar, Yandy Laurens berhasil membawa film pendeknya yang berdurasi 11 menit memenangkan kategori filem pendek favorite pada Psychocinema Festival 2008 yang digelar oleh himpunan mahasiswa psikologi Unika Atmajaya. Ia yang pada saat kerusuhan Mei 98, baru berumur 9 tahun dengan sangat mengagumkan mampu mengeksplor kritik sosial dan menilik segi2 mentalitas kemanusiaan yang tercabik saat tragedi berbau diskriminasi tersebut. Sebuah bukti bahwa generasi muda adalah generasi yang peduli dan tidak mudah melupakan.

Sinopsis
Seorang Ayah, pria keturunan Tionghoa (Ferry Salim) yang berkulit putih hidup bahagia berdua dengan anaknya bernama Putra yang masih kecil dan berkulit gelap. Pada suatu hari sepulang dari kerja, Sang Ayah menemukan anaknya Putra sedang duduk di ruang tamu dengan wajah penuh cat putih. Ketika ditanya, Putra mengungkapkan emosinya dan mempertanyakan mengapa ia berbeda warna kulit dengan Ayahnya.
Sang Ayahpun teringat tentang kejadian 11 tahun yang lalu, dimana ia baru saja melangsungkan pernikahan dan istri barunya (Wulan Guritno) menjadi salah satu korban perkosaan pada kerusuhan Mei 1998. Sehingga lahirlah Putra dan sejak saat itu si Ibu yang terguncang jiwanya harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa.
Putra mengerti dan mereka berpelukan, setelah Sang Ayah menyakinkan bahwa ia menyayangi Putra apa adanya.

Didix J.
Kebetulan saya waktu itu masih smp, ikut liat longmarch dari kampus UMS Mendungan sampai Matahari Singosaren. Sampai akhirnya SOLO chaos.

Bayu W. ( tinggal di Jl. Guruh, dekat STSI )
Saya ingat hari itu hari jumat, tanggalnya lupa, saya habis ngelayat di makam Haji, keluar jalan Slamet Riyadi, dari sebelah barat (UMS) massa sudah tidak terkendali banyak sekali berjalan ke arah timur. Cukup ketakutan waktu itu dan kesulitan mencari jalan pulang ke daerah UNS.Sesampainya massa di Jl/ Slamet Riyadi, mereka mendobrak dealer2 motor dan toko2, entah apa yang mereka lakukan. Lalu saya pulang. Sampai di kost, mulai kelihatan asap2 kebakaran, kabarnya Matahari Singosaren, Beteng, dan SE terbakar. Sebuah bis dilarikan dari terminal dan dibakar di depan UNS di jalan Ir. Sutami. Saya lihat penjarahan sebuah gudang beras dan gula, oleh massa. Sekitar 6-7 truk dikeluarkan dari gudang itu dan dibakar. Dealer Toyota Nasmoco dijebol. Malam listrik mati, jadi situasi mencekam, toko oli di Jl. Ir Sutami dibakar, jadi ledakannya tinggi sekali terlihat dari tempat saya. Hari berikutnya gudang ban di depan UNS di bakar, asap tebal membubung.

Yunita D. ( tinggal di daerah Jagalan, Mesen, deket Pasar Gedhe )
Waktu itu saya tidak berani keluar rumah. Keadaan Solo sangat kacau. Dimana-mana rusak n banyak penjarahan. Saya dan keluarga saya wktu itu berusaha untuk menyembunyikan adik saya yg wajahnya seperti org china, padahal kami bukan keturunan china.

Daryono S.( tingga di Tegalrejo Sondakan, Laweyan )
Kebetulah saya waktu itu di Solo, dan saya ada sedikit ngikuti kerusuhan tersebut, karena saat itu saya di kampus UMS. Dan dari situ nampaknya menurut saya peristiwanya diawali.Militer menembaki dengan peluru hampa dan gas air mata terhadap demonstrasi para mahasiswa Universitas Muhammadiyah dan mahasiswa lain yang berkumpul di gedung satu UMS. Banyak sekali mahasiswa jadi korban, pada saat itu saya termasuk yang menolong beberapa mahasiswa yang terluka, kena gas air mata dan ada yang kena peluru karet. Mungkin menurut saya lho…. dengan adanya tindakan resesif dari militer tersebut yang mengakibatkan para mahasiswa jadi beringas. Tetapi mahasiswa tetap terkonsentrasi di sekitar kampus tidak bisa keluar.Tempat untuk mengevakuasi para mahasiswa yang menjadi korban adalah di kampus I, gedung UMS paling depan, dekat dengan masjid kampus.
Di jalan besar dekat rumah saya ada supermarket SE matahari yang dibakar massa, tapi enggak tau massa dari mana itu ? Tapi yang jelas ada banyak korban disitu yang meninggal terpanggang di dalam gedung terjebak oleh api.

Yan. S ( tinggal di Bibis Luhur kel. Nusukan / Solo bagian utara )
Peristiwa kerusuhan itu yg saya tau berawal dari aksi mahasiswa di depan kampus Univ.Muhamadiyah Surakarta sekitar jam 10 pagi. Menurut teman2 yg waktu itu disana, gak lama datang massa gak dikenal (diangkut truk) ikut gabung, setelah itu muncul beberapa orang (provokator) mengarahkan massa berangkat ke pusat kota. Aksi anarkis dimulai dr Jl Slamet Riyadi, mereka merusak & membakar fasilitas umum, perkantoran, toko, mobil,dll sampe hampir merata keseluruh kota. Yang saya lihat aparat keamanan gak ada tindkan apa2 cuma berjaga-jaga aja. Sampe malam hari suasana mencekam masyarakat Solo gak berani keluar & memang gak boleh keluar rumah oleh aparat. Dan keesokan harinya terjadi aksi penjarahan massal, setelah peristiwa kerusuhan itu perekonomian kota solo lumpuh total, susah cari bahan makanan, mungkin peristiwa itu gak jauh berbeda dgn yg terjadi di Jakarta.

Handy H.( tinggal di daerah dalam Kraton Kasunanan)

Memang kejadian itu diluar dugaan bahwa psikologis orang solo yang adem, toleransi, berubah seketika menjadi seekor singa yang sedang marah dan impact kerusuhannya ternyata paling besar daripada kerusuhan di kota2 lainnya. Bahkan saya pernah bertemu di Semarang dengan salah satu anggota POLRI, dia agak dengan kondisi psikologis orang Solo yang notabene adem ayem kok kalau marah jadi beringas sekali. Namun kalau melihat kondisi di lapangan dari sudut pandang saya, sangat tidak mungkin hal2 seperti ini dimotori oleh orang-orang biasa pastinya orang yg sudah terlatih, karena semua terlihat termanagement yaitu ketika ruko dibakar dan arah kemana massa bergerak.

“A photopgraphic Testimony of the May 1998 Riots in Indonesia"

Pameran foto otentik dari berbagai sumber wartawan photo/photographer ini diprakarsai oleh Bela Kusumah, putra bangsa Indonesia yang terjun sebagai penulis dan jurnalis profesional di Melbourne. Pameran diadakan di gedung Overseas Service Bureau/OSB (sekarang menjadi Australia Volunteers International/AVI) beralamat Brunswick ST, Melbourne–Victoria pada tanggal 12 Desember 1998 bertepatan dengan Hari Kemanusiaan Sedunia sebagai sebuah pesan kemanusiaan atas lembaran hitam tragedi Mei 98 yang terjadi di negeri tercinta ini. Berikut adalah rangkaian karya foto berharga yang dipamerkan sebagai bukti sejarah yang tidak boleh dilupakan.



“ Jakarta 2039: 40 Tahun 9 Bulan Setelah 13-14 Mei 1998 “ ( lihat link )

Ini adalah sebuah cerita bergambar karya Seno Gumira Ajidarma dan Zacky sebagai ilustratornya. Komik yang sarat pesan dan mengiris sanubari ini mencoba mengurai sejuta rasa yang terpendam selama 40 tahun dan 9 bulan ....sehubungan dengan aksi penganiayaan dan pelecehan seksual yang terjadi pada tragedi Mei 98. Rasa sakit, air mata, marah, malu dan rasa bersalah ditampilkan dari berbagai sudut pandang yaitu : Sang Anak (judul bab: Ternyata aku anak hasil pemerkosaan), Sang Ibu (judul bab: Dimanakah kamu anakku ?), Sang Ayah (judul bab: Nak, Ayahmu ini seorang pemerkosa).

Survivor Guilt

Survivor Guilt adalah kondisi kejiwaan yang mempengaruhi seseorang sehingga dia merasa begitu bersalah/bertanggung jawab sehubungan dengan sebuah tragedi penuh trauma yang menimpa keluarga, teman dan karabatnya bahkan orang2 yang tidak dikenalnya, sementara dirinya sendiri berhasil selamat dari tragedi tersebut. Entah itu bencana alam, penyakit atau kekerasan/teroris.

Derajat perasaan bersalah ini bervariasi sekali untuk setiap individu, walaupun tragedi yang dihadapi sama. Ada yang lumrah2 saja dan ada yang ekstrim dan perlu segera ditangani secara serius.

Kasus Survivor Guilt banyak ditemui saat tragedi World Trade Centre 11 September 2001 di New York, dimana ribuan korban meninggal dan puluhan ribu lainnya berhasil selamat, entah dalam keadaan luka atau tidak. Banyak para survivor menjadi sangat sensitif mengenang teman kantor dan karabatnya yang tewas dalam tragedi yang traumatik ini. Banyak yang cenderung punya perasaan jadi orang yang cuek dan tidak pedulian karena tidak menolong orang yg jatuh, merasa bersalah karena lari mendahului wanita hamil besar di tangga darurat, merasa tidak setia karena meninggalkannya temennya jauh di belakang dll. Semua perasaan ini normal walau perlu juga diperhatikan perkembangannya.

Ada yang pernah nonton film “Schindler’s List “ ? Itu salah satu contoh kondisi Survivor Guilt yang ekstrim. Si Schindler yang sudah menghabiskan hidupnya mengabdi dalam perang dengan menyelamatkan ratusan jiwa2 yang sekarat, bukannya menerima dengan bangga dan penuh syukur ketika dihormati dan disalami oleh para korban yang selamat…..malah dia minta maaf karena tidak mampu menyelamatkan lebih banyak orang lagi. Dia merasa sangat bersalah, karena dirinya selamat sementara jutaan orang lainnya mati menghadapi maut. Berikut saya kutip sebuah makalah untuk menjelaskan kenapa sikap Schindler seperti itu.

Guilt following traumatic event, makalah dari Kathleen Nader, D.S.W.

…..A Sense of Responsibiity - Individuals with a sense of responsibility for those around them may be particularly vulnerable to guilt feelings. Among this group are individuals in positions of authority (e.g., administrators, supervisors), positions charged with rescuing or maintaining the well-being of others (e.g., police, firepersons, military), or who habitually feel responsible for others. For some, responsibility for others is defined as part of the job. People often readily relinquish responsibility to these individuals adding to the sense that it is their charge not only to keep things right but to make things right. As a result, members of this group may feel a sense of failure and guilt even when rescue or well-being are impossible.

Terus terang saya jadi bertanya-tanya dalam hati, kenapa tragedi Mei 98 tidak membawa reaksi Survivor Guilt seperti yang dijelaskan diatas yah? Ada apa dengan rakyat Indonesia dan pemerintahnya ? Dimanakah rasa risih, iba, malu dan rasa bersalah itu ?

Sungguh saya tidak mengharapkan bahwa setelah tragedi Mei 98, kita semua jadi ekstrim, patah semangat, dan berkabung sepanjang tahun. Tapi menurut saya sedikit porsi rasa bersalah itu cukup berarti buat arti sebuah kepedulian antar sesama manusia dan bisa membawa arti yang besar untuk memancing rasa patriotik seorang Jendral atas sumpah jabatannya.

Saya jadi berandai-andai……….andaikan saja kondisi ekstrim Survivor Guilt si Schindler bisa ditularkan sedikit kejajaran pemerintah Indonesia. Mungkin saat ini sudah ada yang minta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia atas terjadinya tragedi hitam Mei 98, mungkin sudah ada yang merasa bersalah dan bersedia bertanggung jawab atasnya. Tapi mimpi siang bolong memang ga pernah jadi kenyataan.

Pesta Pemilu 2009 telah usai. Panggung kampanye dan tontonan iklan sudah tidak ada, acara debat presiden pun sudah selesai (walaupun kalo di negara lain, debat presiden tetep lanjut untuk menilai hasil kinerja kabinetnya). Entah kenapa….saya cukup lega dengan hasil yang sementara dicapai pada pesta Pemilu 09 kemarin. Saya merasa bangsa kita dari Sabang sampai Marauke sudah cukup kritis untuk berdemokrasi, sudah sadar akan politik aman damai, dan sudah cukup bijak untuk menjatuhi pilihan.

Untuk mencapai hal ini, kita sungguh berhutang budi pada banyak pihak. Dan salah satu yang tidak boleh dilupakan adalah kepada sebuah profesi yang kita anggap tidak begitu penting, yaitu para mahasiswa. Mereka memang belum menyumbangkan tenaga dan pikiran mereka di bidang kehidupan nyata, mereka belum jadi dokter, akuntan, manager, hakim, insinyur dan lain2. Bila diibaratkan roti hangat yang keluar dari oven, para mahasiswa ini bagaikan adonan roti yang belum jadi, mereka masih harus diaduk, diulen, diimbuhi , dibentuk dan dibiarkan mengembang secara alami.

Kita sama dengan mahasiswa. Mahasiswa adalah cermin diri kita, karena mayoritas dari kita pernah jadi mahasiswa dan punya gejolak perjuangan yang sama sebagai adonan roti. Mahasiswa juga merupakan penyambung idealisme kita dari tahun ke tahun karena sebagian besar dari kita sudah mulai kehilangan tenaga untuk tetap vokal, tetap berani, dan cenderung kehilangan waktu untuk tetap peduli.

Bedanya adalah….. kita adalah survivor pasif di belakang layar sedangkan beberapa mahasiswa yang berdiri sebagai pagar betis bayang2 kita harus bersentuhan dengan timah panas senjata api para alat negara.

Jadi kalau 4 mahasiswa Trisakti yang belum sempat melihat hasil derap reformasi, yaitu Elang Mulya Lesmana luka tembak di dada, Hafidin Royan luka tembak di kepala, Hendriawan Sie luka tembak di leher dan Hery Hartanto mengalami luka tembak di punggung.

Sebenarnyalah …kita pun sudah jatuh terjerembab dan terluka sangat parah…….

Karena dada mereka adalah dada kita.
Kepala mereka adalah juga kepala kita.
Leher mereka itu mewakili leher kita
Dan punggung mereka adalah jelas punggung kita semua !

Dengan penuh rasa hormat saya ingin mengenang ukiran nama2 mereka, yang telah pergi namun tetap menebarkan harum semerbak semangat perjuangan. Jangan pernah lupakan mereka.


Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk disampingku kawan
Banyak cerita yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering bebatuan

Tubuhku terguncang dihempas batu jalanan
Hati tergetar menatap kering rerumputan
Perjalanan ini pun seperti jadi saksi
Gembala kecil menangis sedih ...oooh…

Ini semua baru permulaan. Kita sungguh berharap bahwa Presiden yang terpilih untuk menahkodai negara yang kaya akan sumber alam dan sumber manusia ini, yang kaya akan kebudayaan dan kepulauan ini, yang kaya akan perbedaan dan keaneka ragaman ini……MAMPU melakukan yang terbaik untuk bangsa Indonesia.

Dan yang terpenting, jangan biarkan sekali lagi tragedi kemanusiaan yang tidak lain membuahkan kesengsaraan bagi rakyat terulang di masa yang akan datang. Jangan biarkan jiwa2 pemberani para mahasiswa yang hendak menyuarakan keadilan berjatuhan lagi di ajang bentrokan kekuatan sipil dan militer. Bukan sebuah tugas yang ringan, tapi bukan juga sesuatu hal yang mustahil.


Catatan kecil :

- Terima kasih untuk rekan2 yang telah menyumbangkan debu mei di daerah Solo.
- Terima kasih untuk Bapak Bela Kusumah dan Yandy Laurens untuk sumbangan karyanya.