Monday, May 4, 2009

Mengenang Secara Khusus.... Rosson Kusnadi. Alm
Dalam salah satu wawancaranya, Romo Sandyawan aktivis Tim Relawan Kemanusiaan dan anggota Tim Gabungan Pencari Fakta Mei 1998 menyesalkan tabiat bangsa ini yang dengan begitu mudahnya melupakan kejadian-kejadian pahit masa lalu.

“ Jujur saja…saya sangat sedih melihat memori bangsa ini yg begitu pendek. Bahkan saya ingat ketika terjadi pembantaian massal pada saat tragedi Mei itu, kami masih sedang mengurus korban2 yang hangus di RSCM masih banyak, dan itu televisi dalam negri maupun asing memuat itu, dan itu diexpos di majalah, koran international.
3 hari sesudah itu, Indonesia ini …jakarta berjalan seperti tidak ada apa apa. Orang mulai ketawa2 lagi naik kendaraan umum….’hidup harus berlanjut terus katanya’. Tetapi kalo pelanggaran HAM ini tidak diurus, orang akan berpikir berarti di masa depan dengan mudah akan terjadi lagi karena........ “


Komentar Romo Sandy diatas menggugah saya. Apa bener sih waktu itu, 11 tahun yang lalu kita ini segitu gampangnya lupa ? 3 hari ?
That was.....quick !

Coba deh sekarang inget-inget……
• Kapan yah kita mulai berani keluar dari rumah?
• Yang masih kuliah, kapan sih kalian mulai balik ke kampus Trisakti atau Untar ?
• Yang gawe, kapan coba kita kembali ngantor di daerah Slipi-Semanggi? Gajah Mada-Hayam Wuruk ? (Terus terang saya ga ingat)
• Coba inget kapan kalian mulai berbisnis dan buka toko lagi di Tanah Abang or ITC?
• Mulai berani naik mobil atau angkot melintasi persimpangan semerawut grogol ?
• Di hari keberapa kita mulai berani cari makan di daerah Jembatan 5 - Kota ?
• Dan mulai berani nginjek mall sana sini, mungkin ? (kecuali mall yang hangus tentunya)
• Atau mungkin ada yang kayak saya.... mulai berani ngadain resepsi pernikahan ?

Butuh waktu berapa lama, untuk semua itu ? 5 hari ya ? seminggu ? or 2 minggu ........

Sepertinya kita memang orang maha kuat yah, buktinya kita begitu cepat bangkit dan berbenah diri dari kelumpuhan sebuah tragedi yang tergolong bukan biasa2 saja. Atau memang begitu besarnya skala kekejaman tragedi Mei 98 sehingga nalar orang ga mampu menangkapnya secara keseluruhan? Atau sebenarnya pihak pemerintah kitalah yang perlu diacungkan jempol, untuk sebuah prestasi dalam pengendalian dan pemulihan situasi darurat bangsa ? Entah yang mana yang hebat.

Kalau boleh saya ibaratkan peristiwa Mei 98 seperti pementasan sebuah drama kolosal, maka sepertinya para pemeran dan pendukung cerita....memang diharapkan segera berbenah tanpa perlu mendengar aba-aba, membereskan kostum bekas pakai, menghapus bersih make up wajah tadi siang, menanggalkan dekor panggung menjadikannya kosong melompong dan membersihkan sampah yang pasti ada disana sini. Setelah itu ....pulang, dan besok kembali melakukan aktivitas seperti biasa.

Jadi, saya mulai setuju dengan apa yang dikatakan Romo Sandy diatas. Sepertinya memang kita berhasil dipaksa menjadi bangsa yang gampang lupa. Mereka yg hari itu dijarah rumah dan mobilnya, langsung minggat ke luar negeri. Mereka yang hari itu menggotong-gotong kompor gas dan kipas angin, keesokan harinya seperti biasa membuka warteg dengan kompor baru dan sedikit udara sejuk. Abang ojek juga berbaju baru dan sambil cari obyekan mampir ke toko mas di Pasar Inpres untuk menjual 2-3 cincin berlian. Namun bak sebuah mata uang yang selalu mempunyai 2 buah sisi, disatu pihak hati nurani menegur kok gampang lupa, tapi dipihak lain saya bersyukur kepada Tuhan karena membiarkan bangsa ini menjadi sedemikian pelupa sehingga mampu melewati 3 hari perjalanan jembatan penderitaan dan ketakutan secara instan. Instan itu asal cepat, mudah dan rasa (sakit) nya tidak terlalu heboh, kayak mie instan. Walau diakui segala proses berbau instan, minim pembelajaran yah ?.

Waktu cepat berlalu, kalau waktu peristiwa Mei 98 saya belum nikah maka sekarang saya sudah punya anak tiga. Kalo dulu keponakan saya masih ingusan umur 4, sekarang dia sudah remaja dan mulai khusuk baca soal sosial politik di koran lokal Malang. Kira-kira empat ribu sekian hari telah berlalu sejak kita semua menjadi saksi bisu peristiwa kelam bangsa ini. Terlalu kelam sebenarnya buat diingat kembali, seorang kawan mewanti-wanti, juga beberapa rekan mempertanyakan apa gunanya mengingat-ingat kejadian yang begitu traumatik. Saya sendiri punya gen panik (mungkin turunan dari papa), jadi terus terang saya mulai khawatir semua orang melupakan dengan tanpa sadar peristiwa Mei 98, termasuk saya sendiri. Bayangkan, kalo dalam 3 hari saja kita sudah lupa betapa mencekamnya tragedi Mei 98, apakah kira-kira masih ada memori yang tersisa sekarang....setelah 11 tahun peristiwa itu berlalu, setelah kita semua kembali tenggelam dalam kesibukan hidup dan kepenatan Jakarta ???? Pertanyaan itulah sumber mata air, darimana kemudian ide jurnal renungan ini mengalir.

Jurnal ini ga akan bermain dengan data korban atau kronologis peristiwa Mei 98, tujuannya bukan untuk membakar dendam, juga bukan untuk menudingkan telunjuk kepada pihak tertentu, dipastikan tidak juga akan memberi sumbangan yang berarti untuk penyelidikan dan penegakan keadilan yang sudah lama tertunda. Jurnal ini biasa-biasa aja, ditulis sekedar untuk mengusik perhatian dan menepuk lembut bekas luka yg sudah terlanjur mengering dan terlupakan. Semoga tujuan sederhana ini kesampaian sehingga pesan yg tertinggal di setiap insan yg membacanya adalah bahwa sekecil apapun diri kita, di bumi belahan manapun kita berada saat itu dan saat sekarang, kita semua tetap adalah para survivor tragedi, di tanah kelahiran sendiri.

Dan itulah kenapa beberapa minggu belakangan ini, nama Rosson Kusnadi (Alm) saya ungkit kembali dan beberapa ‘wake-up messages’ saya kirim ke beberapa teman2, yang membuahkan hasil dengan kesediaan mereka memberikan testimoni pribadi mengenai peristiwa Mei 98 berdasarkan perspektif masing2. Berikut adalah Debu Mei 98, cerita dari pelosok Jakarta yang belum pernah saya dengar, yang saya kumpulkan untuk menghiasi kain putih berkabung peristiwa Mei 98. Sebelum debu ini hilang lenyap ditelan waktu, sebelum cerita ini menjadi berita yang tidak pernah disuarakan.

Sumiati G. ( wiraswasta di Jelambar, tinggal di Daan Mogot - Jakbar )
Gue tinggal dibelakang Mall Citraland, di Jl. Karya. Waktu itu belum engeh bakalan ada kerusuhan, yg ada waktu itu baru demo mahasiswa. Ada bakar2 ban mobil ampe ribut gede, di daerah rumah aman2, pada jaga2 daerah sendiri.

Terus besoknya tgl 13 Mei pas gue mo pulang ke tangerang, di jalan tol massa udah mulai bergerak, gue langsung balik arah pulang jelambar lagi. Gila ngeri banget, bayangin… jalan tol bandara ditutup ama massa yg mo rampok. Udah gitu gue denger dari radio sonora kalo mobil pada dibakar2 di jalan tol, orang2 pada dipalak. Untung gue udah dirumah lagi, elu bayangin kalo gue dijalan, bisa mampus gue! Udah gitu pas sorenya, bengkel ban deket rumah dijarah, gudang lipovitan dijarah, pokoknya gudang & toko di sepanjang Jl. Daan mogot pada dijarah. Supermall Karawaci juga kebakar abis. Beberapa hari setelah itu gue survey karena rencana mo buka toko lagi disono, liat tuh mall sedih banget sampe ancur & angus dalamnya.

Diaz N. ( karyawan di Kuningan, tinggal di Pluit Mas - Jakut )
Tanggal 12 Mei 1998, gua pulang kantor naik taxi, kena macet merambat pas di jembatan layang jalan tol Grogol. Tiba2 kedengeran suara orang rame teriak2 dan berhamburan dari sebelah kanan (universitas Trisakti) ke arah Mall Citraland, dikejer aparat polisi sambil nembak dor..dor….. Gua ama tukang taxi kebingungan itu polisi nembakin siapa, maklum ga dengerin berita bhw ada unjuk rasa di Trisaksi siangnya.

Besoknya, madol kerja dan ngumpet di rumah, duduk di depan TV and pasang kuping di radio. Berita kerusuhan n penjarahan tumpang tindih ga ada habisnya, sana dibakar, sini dijarah, sebelah mana lagi juga dikepung massa. Ketua RW komplek rumah udah ngasih instruksi, minta para lelaki dewasa ngumpul di sekitar pos bawa pentungan, balok kayu, tongkat or kalo terpaksa…payung gede, buat jaga2 serbuan masa yg katanya lagi mengarah ke arah Pantai Indah Kapuk, dan akan melewati depan komplek. Para ibu2 dan anak2 disuruh ngumpul di sekolah Dharma Suci, satu2nya sekolah yg ada di dalam komplek.

Akhirnya massa memang lewat, waktu itu saksi mata bilang sekitar 2.000 orang long march, dan komplek rumah selamat cuma dilewatin, karena inisiatif Pak RW yang nge-bayar orang2 kampung belakang buat bikin pagar betis rapat sepanjang jalan masuk.

Kalo ga salah 2 hari setelah itu, kita udah berani keluar. Kita semobil survey ke Telukgong dan ngeliat bengkel mobil ( usaha joinan Papa gua dan 2 temannya) hancur, jendela pecah, pintu rolling door ambruk dan mobil2 sekitar 8 mobil yang sehari sebelumnya standby di bengkel buat di servis ditarik keluar dan dibakar. Survey ke Bandengan Utara, Jl. Angke dan Jembatan Lima, banyak bangkai mobil dan barang2 yg dibakar di tengah jalan. Bulu kuduk gua merinding ngebayangin apa yang terjadi kemarin disitu.

Robertus O.K. ( karyawan di Hayam Wuruk, Tinggal di Kemurnian – Jakbar )
Gua waktu itu kerja di bank Bali Hayam Wuruk. Pas mulai rame, karyawan disuruh pulang. Sampe di jalan nga ada kendaraan, terpaksa jalan kaki ke rumah di kemurnian. Kompleks rumah hampir diserang masuk, untung udah pada siaga. Api di gloria berasa dekat & panas. 3 hari nga tidur. Thank God it was soon over.

Sandra D. ( tinggal di Sunter – Jakut )
Waktu kerusuhan gua lagi hamil 8 bln, masih tinggal di Griya Inti Sentosa-Sunter. Waaaahhh….. pengalaman gua hebooohh seeeruuu banget. Daerah rumah gua kena, gua gak bisa keluar dari komplek sampe malem jam 10. Duduk di depan komplek rame2 sama semua penghuni, gua gak makan 1 harian sampe turun 2 kg, 5 meter lagi rumah gua kena attack. Laki gua sampe diuber2 penjarah, waktu dia balik ke rumah hanya mau ngambil 1 galon aqua. Seruuuu kan..Makanya gua skrg trauma tinggal di Indo kalo mau pemilu, dan gua sekarang takut kalo liat org rame2 ngerumun, takut ada apa2.

Felila S. ( keluarga tinggal di Jakarta Barat )
Gua dah di Amrik. But sampe ngeri dan sedih banget ngedenger beritanya. Untung keluarga (tersebar di jkt barat dan pusat yah) dlm keadaan aman. Tapi kayaknya ada berita anak Ricci yg meninggal karena peristiwa itu yah, Rosson Kusnadi. Dia 2 angkatan di atas kita deh. Tragis yah.

Marlina C. ( karyawan di Sudirman, tinggal di Kayu Putih - Jakpus)
Gua waktu itu ngontrak di kayu putih, Puji Tuhan....suami gua dapat info express karena dia di Citibank, kita ngungsi ke Malaysia, anakku yg pertama masih 8 bulan. Bersyukur banget.. Semua keluarga besarku ok2 aja, yg cewek2 ngungsi ke Kuala Lumpur, ada yg sekolah ke Singapur juga, ada yg ke Amerika & ada yg ke Aussie juga.

Ellyna L. ( tinggal di Jl.Prapanca – Jaksel )
Gua di Jakarta , trus malemnya gua ke Jl. Gajah Mada-kota tuh naek L300 mini bus geto ama sekompi pasukan, kacanya gelep dan bodyguard temen gua duduk di depan, gua diselundupin di tengah2 deret belakang. Trus gw bener2 liat tuh kota ancurr, msh ada mobil yg kebakar, kaca berhamburan dimana mana, orang2 yg nangis di depan rumahnya yg kebakar...tragis bgt d...

Aida M. ( tinggal di komp. Jamhari - Jakbar )
Hari itu adik gue kagak bisa pulang ke rumah karena dia stuck dan tinggal dirumah temennya selama 3 hari, gak mandi, gak ganti baju, kita cuma telpon-telponan aja dan make sure kalo dia selamat.
Dan pada malem kedua, komplex jamhari hampir diserbu sama gerombolan. Dari jauh kita bisa denger mereka teriak-teriak...serbu...serbu..., trus bokap gue dan tetangga-tetangga pada siap-siap pegang apa aja yang bisa untuk melindungi diri. Satu hari satu malam kita gak tidur, takut diserbu, atau komplex kita dibakar.
Kiu-kiu gue yang buka toko jamu di angke sudah dijarah habis, tapi untungnya gak dibakar makanya mereka sekeluargapun ngungsi kerumah gue. Tapi tetep aja kita ketakutan, stress out, gak tidur selama berhari-hari.

Akhirnya, gue sekeluarga langsung beli tiket dan rencananya mau berangkat ke s'pore...tapiiiii....
kita stuck lagi di airport satu malam karena....wwiiiiihhhh....itu manusia yang di airport udah kayak apa tau...buanyaaaakkkk sekali dan padat, lebih parah dari jakarta fair. Kita pada tidur di lantai, bawa apa aja yang bisa dibawa, kiu-kiu gue malah sempet bawa beras dan supermi.

Trus, begitu kita sampai di airport s'pore, kita diserbu sama wartawan disono. Kiu-kiu gue diwawancarai.
dan besokannya kita ada dikoran s'pore, mereka tulis: “ Satu keluarga mengungsi dari Jakarta karena kerusuhan tanggal 13 mei, tidak banyak yang mereka bisa bawa selain beberapa helai pakaian dan sekarung beras “

Gw dan keluarga ngungsisi ke Singapore selama 3 minggu sampe situasi bener-bener aman.

‘ M a y ’

Sayangnya film ini hadir bukan sebagai film dokumenter yang menceritakan persis tentang apa yg terjadi pada tragedi Mei 1998. Walaupun demikian, film drama yang dikemas dengan hati-hati oleh Viva Westi dan dirilis pada bulan Mei 2008, tepat 10 tahun peringatan peristiwa tragedi memberi sumbangan yang berarti untuk sebuah pesan pengakuan. Film ini mengangkat unsur dampak dan akibat yang dirasakan oleh korban penjarahan, kerusuhan dan penganiayaan HAM.

Sinopsis film : MAY
Tanpa memperdulikan perbedaan etnis diantara mereka, Ares (Yama Carlos) dan May (Jenny Chang) adalah pasangan yang saling mencintai. May adalah seorang gadis keturunan Tionghoa yang sedang mengejar cita-citanya untuk menjadi seorang penyanyi. Tetapi pada tgl 13 Mei 1998, tragedy kerusuhan di Jakarta, May menghadapi kenyataan pahit sbg korban pemerkosaan massal dan hari itu May kehilangan seluruh hidupnya, cintanya dan terpisah dari ibu kandungnya., May diselamatkan oleh seorang warga asing dan akhirnya pindah dan menetap di Malaysia sebagai penyanyi klub.

Sementara Ibu May, harus menelan kenyataan pahit karena mengganggap May telah tiada. Dalam keadaan linglung pada saat kerusuhan dan penjarahan terjadi, Ibu May memberikan sertifikat tanah rumah dan tempat usahanya kepada Gandang, hanya untuk selembar tiket ke luar negeri, yaitu ke Malaysia.

Sepuluh tahun telah berlalu sejak kejadian itu, walaupun mereka masing2 telah memiliki kehidupan baru namun tetap saja dihantui bayang-bayang peristiwa tragedi mei 98 di Jakarta yang telah membekas menjadi kenangan yang amat pahit. Beberapa peristiwa mempertemukan kembali May dan Ibunya juga Ares. May yang mencinta namun terluka tetap pada pendiriannya untuk tidak pernah kembali kepada Ares yang pada hari tragedi tidak datang menjemputnya.

Kusniati U.
Gua balik lagi ke oz Sept 1996, married Mar 1997. May 1998 udah hamil anak pertama tuh, disana.

Dewi S. ( tinggal di Grogol - Jakbar)
Waktu mei 98 aku masih kuliah di Untar & ngekost di daerah tawakal grogol. Kos aku kebetulan bisa liat langsung ke jalan raya kyai tapa krn depan kos aku tanah kosong. Penembakan mahasiswa tgl 12 mei kalo ga salah ya? 13 mei kan pemakaman mahasiswa trisakti, habis pemakaman mereka mulai merusak lampu2 jalan. Tapi yg merusak bukan mahasiswa, tapi orang2 awam yg ikut2an. Setelah lampu jalan & fasilitas umum dirusak, mereka mulai menjarah supermarket & tempat perbelanjaan. Sasaran mereka adalah tomang plaza (topaz) yg berjarak kira2 hanya 200m dari kosku. Aku liat dengan jelas dari balkon kos, mereka menjarah monitor komputer & brg2 elektronik lainnya. Setelah habis dijarah, mereka membakar topaz tsb. Kita yg di kos sempat takut api bakal menjalar, tapi untung malam hari api sudah bisa dipadamkan. Tgl 14 nya denger dari berita mereka mulai menjarah rumah2 dengan sasaran rumah orang chinese, tapi dengernya masih di daerah tangerang. Sampe sore hari masih sebatas mendengar berita dari radio/tv, & malam hari nya di tv bahkan ditampilkan penjarahan & pembakaran rumah2 di daerah angke. Kami yg di kos semua wanita n mayoritas chinese, sudah mulai packing membawa surat2 & barang2 penting, takut akan kemungkinan terburuk. Untungnya pemilik rumah yg tinggal di lantai bawah bukan chinese & punya anak lelaki dewasa sehingga paling tidak kami cukup merasa aman. Kira2 jam 2 pagi, pintu kos kami digedor2, ternyata pak RT yg memberitahu bhw kami harus siap2 karena massa sudah dekat, dia menyarankan agar kami siap2 lari ke pos terdekat. Kami seisi rumah panik & mulai ketakutan, hampir semua dari anak2 kos mulai menangis & berdoa. Aku membayangkan apa jadinya kalo seandainya massa benar2 menyerbu kos kami, kalau hanya brg2 yg diambil sih tidak apa2, tapi kami cewek2 apakah tidak akan diapa2in? Aku tak henti2nya doa mohon perlindungan Tuhan, kami duduk di ruang tengah & doa bersama2 sambil menangis. Semua lampu kami matikan, & anak ibu kos sudah naik ke balkon kami sambil menenteng senapan. Semalaman itu tidak ada satupun dari kami yg tidur, semua berjaga2 sambil melihat ke jalan raya. Dari kejauhan kami bisa melihat beberapa kali rombongan massa melintas di seberang jalan kyai tapa, yaitu di sekitar jln muwardi & susilo. Aku tidak tau apakah mereka habis menjarah muwardi atau hanya melintas saja setelah menjarah dari tempat lain. Sampe pagi hari kami berjaga, & puji Tuhan mereka tidak sampai ke daerah kami. Tgl 15 kami msh mendengar msh ada penjarahan di pinggiran jkt tapi skalanya sudah kecil. Kami benar2 bersyukur krn kami selamat & terhindar dari bahaya. Amit2 7 turunan jangan sampe ada kejadian seperti itu lagi deh...khususnya di indo ya...May God always bless us...

Indriyanti K. ( tinggal di Keadilan - Jakbar )
Panjang bangetzzz, yg seinget gua waktu itu baru berhenti kerja dan puji Tuhan kayaknya ga ada seorangpun dari family gua yang sampe kejebak ga bisa pulang segala. Gua udah punya anak umur 1thn, hampir2 gak bisa tidur krn deg2an meskipun gua gak liat apapun cuma denger2. Kalo kata bokap nyokap di pintu kecil lebih tegang krn didepan rumah lalu lalang org2 yang ngejarah bahkan anak kecil kuat panggul monitorPC serta ibunya dorong2 kulkas.. Sementara langit menghitam karena glodok lagi dibakar.. Cowok2 pada giliran ronda sedang gua lagi berjaga2 sambil liat2 di plafon bagian mana yg bisa gua ngumpet sambil bawa bayi yah kalau tiba2 ada sekawanan yang nyerbu.. Wah amitz amitz jangan sampai terulang lagi.

Intan E. ( keluarga tinggal di Jakarta Barat )
Gua di jepang dari taon 90. Waktu kerusuhan itu gua pas lagi mau pulang for good (barang2 semua udah dikirim semua tiket gw pun udah beli). Siapa tau kerusuhan, jadi papi gua suruh tunda dulu. Eh pas dapat offer kerjaan yg sekarang ini, terus kenal suami, akhirnya gak jadi pulang. Ikut stress juga sich biar gak ngalamin langsung karena keluarga gua tinggal di kota, deket toko damai.

Hendri H. ( tinggal di Kelapa Gading - Jakut)
Gua ada di kelapa gading bawa tongkat sepotong mondar-mandir dari satu pintu gerbang ke pintu gerbang lainnya sama tetangga mengantisipasi serangan yang tidak jelas akan datang atau tidak.

L. Irwan ( tinggal di Perniagaan - Jakbar)
Mei 98 masih di lokasi lama di Perniagaan. Pas kejadian gua baru balik dari Sunter kantornya Time Zone ke arah Sudirman SCBD. Di Atma sudah mulai rame, baru siangnya dapat kabar sudah mulai tembak2an. Sorenya pulang bareng rame2 konvoi menuju Cengkareng, tapi di Ring Road menuju Pasar Cengkareng sudah dihadang puluhan orang yang berusaha mecahin kaca mobil, mereka naik ke kap mobil & ada beberapa yang berusaha gulingkan mobil. Syukurnya dari 5 mobil hanya 1 mobil yg pecah kaca depannya tapi kita semua berhasil putar balik menuju Kebon Jeruk Intercon. Malamnya nginap disana, paginya kondisi kelihatan kondusif, balik ke rumah di Perniagaan tapi gak tahu kenapa rutenya lewat Sudirman, gua sendiri gak nyadar pokoknya bisa sampe rumah dengan selamat. Di rumah sebelah Pasar Jaya sudah hangus, org2 rame pada ngambilin brg. Suasana tidak mencekam, cuma jam 10an ada beberapa orang komando mulai bakar2 an lagi, 2 hari ke depan suasana mencekam bakar2an ssampe hari ke-3 baru tentara turun jaga keamanan suasana baru kondusif."

Lihardi ( tinggal di Gg. Songsi - Jakbar)
Gak ada apa2 karena tinggal di jalan kecil dan dalam gang. Yang parah di jemb lima. temen gua motornya ditarik keluar dan dibakar. Tapi toko obat deket Dokter Rony kasih duit ke preman2 sana, gak di apa2 in, itu di hari pertama.
Saat itu gua masih kerja di ketapang. Hari kedua yg gua gak kerja. Gua temenin nyokap ke pasar seberang sekolah bhinneka. Waktu jalan masuk ke songsi, tiba2 ada org2 berlarian. kita jadi ikut2an tanpa tau ada apa, tapi ya...nothing happened.

Ria P. ( kerja di Senen, tinggal di Pejagalan-Jakbar)
Gua waktu itu masih di jakarta, baru melahirkan anak pertama. Kerja di Mitra supermarket, masih 1 grup sama Hero, under Dairy Farm group (cold storage, guardian etc). Pas hari kejadian, itu hari terakhir kerja dan gedung dibakar, untung keburu keluar dulu, ngungsi semalem ke rumah ipar gua, trus gak lama kita pindah ke singapur.

MERPATI KECIL

Tanpa mengecilkan arti dari pengorbanan 4 orang mahasiswa Universitas Trisakti pada peristiwa 12 Mei 1998, di jurnal ini saya mau menyebut satu nama lain yang kisahnya saya kutip karena saya begitu salut sama semangatnya, dan sekaligus mengutuk ketidakadilan yang membuat sayap sang merpati kecil ini terkulai. Entah yah…kalau memang ada harga yang harus kita bayar untuk sebuah reformasi bangsa, maka apakah tragedi Mei 98 dan nyawa seorang Ita adalah jawabnya? Apakah harga ini tidak berlebihan ?

ITA MARTADINATA ( seorang aktivis HAM Indonesia, berusia 18 tahun ) Sumber : Wikipedia
Nama sesungguhnya adalah Martadinata Haryono. Siswi kelas III SMA Paskalis berusia 18 tahun ini ditemukan tewas dibunuh pada tanggal 9 Oktober 1998 di kamarnya di Jakarta Pusat. Perutnya, dada dan lengan kanannya ditikam hingga sepuluh kali, sementara lehernya disayat. Hal ini terjadi hanya tiga hari setelah Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK) dan beberapa organisasi hak-hak asasi manusia lainnya mengadakan konferensi pers, dan menjelaskan bahwa beberapa orang dari anggota tim ini telah menerima ancaman akan dibunuh apabila mereka tidak segera menghentikan bantuan mereka terhadap investigasi internasional atas perkosaan, pembunuhan, dan pembakaran atas sejumlah gadis dan perempuan Tionghoa dalam kaitan dengan Kerusuhan Mei 1998.
Pihak yang berwajib menyimpulkan bahwa kematian Ita hanyalah suatu kejahatan biasa, yang dilakukan oleh seorang pecandu obat bius yang ingin merampok rumah Ita, namun tertangkap basah, sehingga kemudian ia membunuh gadis itu. Namun banyak pihak yang meragukan pernyataan ini. Apalagi menurut rencana Ita dan ibunya, Wiwin Haryono, akan segera berangkat ke Amerika Serikat dengan empat korban Kerusuhan Mei 1998 sebagai bagian dari Tim Relawan untuk Kemanusiaan, untuk memberikan kesaksian kepada Kongres Amerika Serikat tentang tragedi itu. Ita dan ibunya diketahui cukup banyak terlibat dalam memberikan konseling kepada para korban kerusuhan tersebut.

Ivi T. ( tinggal di Grogol - Jakbar )
Waktu itu gua ngekos di Grogol. Gak bisa pulang ke rumah akhirnya nginep di Jl Bangka (kosan cici). Berhari2 kantor tutup, segala sesuatunya very uncertain. Belakangan hari baru tahu bahwa kita korban dari oorang/golongan yg memanfaatkan situasi yg sengaja mereka ciptakan itu. Tapi kita termasuk korban yang beruntung..

Tjin Fei ( keluarga tinggal di Jelambar – Jakbar )
Masih belum pulang, waktu itu rumah ortu di jelambar. Msh di US dan pulang thn 2000.

Jillian G. ( tinggal di Kebon Jeruk Intercon - Jakbar )
Di rumah dengerin radio and nonton TV, bokap sama adik aja yang malamnya disuruh jaga siskamling soalnya suka dapet berita ngawur massa udah masuk komplek laah, udah di blok sini…blok sana, padahal ga ada. Tapi ruko di intercon depan, kabarnya ada yg diperkosa dan mati angus terbakar.

Kiyanto A, ( usaha di Mangga 2, tinggal di Pademangan )
Tahun 98 gw dagang Cover dan Rak VCD di Mall Harco Mangga 2. Customer gua toko2 dan stand2 VCD di Harco Mg II, ITC, Glodok dan sekitarnya. Waktu itu dagang lumayan ok. Waktu itu barang gua ngak pernah cukup untuk dibagi ke customer. Jadi bisa bayangkan tagihan gua diluar cukup banyak karena VCD lagi booming waktu itu.
Setelah kerusuhan Mei 1998 Glodok , Mangga II dan sekitarnya habis dijarah. Gw langsung lemas setelah melihat ke semua tempat customer gua, habis semua. Dan benar, para customer sebagian tidak bisa bayar, sedangkan gua ama pabrik tetap harus bayar. Gua tinggal di pademangan waktu itu....pulang dari mangga 2, kira2 jam 18.30 udah sepi banget jalan....kaya kota mati.

Theresia C. ( tinggal di Gg. Kalimati - Kota )
Tinggal masih di kota, wah serem banget lho disana.. gang i-ie gua itu banyak banget yg lewat2 gotong2in TV n electronic dari Glodok bekas dijarah, gua takut banget lho soalnya dia orang mau masuk gang i-ie gua situ, tapi untung di depan banyak orang padang yg jualan baju halang2in. Wah kalo sampe masuk bahaya tuch, kita keluar salah gak keluar juga salah.

Imelda V. ( tinggal di Kelapa Gading - Jakut)
Gua saat itu gak merasakan apa2, karena gua di rumah. Saat itu Kelapa Gading aaammaaannnnnnnn banget karena Pak Wiranto katanya punya rumah di Kelapa Gading. Jadi, gak ada apa2 ....

Risantha S. ( tinggal di Jl. Tambak )
Saya kost waktu itu di Jl.Tambak. Setelah ada bakar-bakaran mobil, kantor PDIP yang di dekat Jl.Proklamasi juga terbakar, jarah-jarahan di Toko alat-alat musik Jl.Proklamasi, itu berlangsung sekitar jam 3 sore. Lalu saya memutuskan untuk mengungsi ke rumah kakak saya di Rawamangun dengan Taksi. Saya lewat senen belakang yang dilintasi kereta api. Waktu itu jam menunjukan 6 sore. Didepan taksi saya dihadang massa yang begitu banyak dan menunjuk nunjuk ke arah saya bilang “ CINA-CINA KELUAR LOE…” di dalam taksi memang saya ditemani seorang teman cowok. Mereka pukul-pukul taksi. Tiba-tiba ada yang teriak : buka-buka..bukaaaa...sambil gedor pintu penumpang yang di depan, lalu supir taksi buka, si penggedor mendorong seorang perempuan yang masih muda usia 18 tahun secara paksa ke taksi saya dan teriak sama supir taksi ' JALAN….JALAN CEPAAAAT….’. Cewek itu penuh ketakutan dia bilang dia pergi ke senen dengan ibunya mau belanja dan sekarang terpisah dengan ibunya, dan dia baru saja diperkosa sama massa yang di senen itu, begitu dia katakan ke saya. Saat itu saya juga shock baru lepas dari maut, saya juga bingung. Ga ada yang dapat saya lakukan saat itu sampe akhirnya kita berpisah di Rawamangun.

Daivy S. ( tinggal di Jelambar - Jakut )
Wah.... menegangkan banget. Malam hari aku lihat langit merah karna api, yang kedengaran cuma bunyi tembakan dari jauh. Aku pikir...apa perang seperti ini juga? Aku takut banget, anakku yang masih kecil sampai kutitipkan sama mbakku, biar kalau terjadi apa2 anakku dibawa pulang ke kampungnya asalkan selamat. Thanks God, finally nothing happened to our family!

Tintin S. S. ( tinggal di Tanjung Duren - Jakbar )
Luckily, gue married just about a month before kerusuhan Mei 98. Gue tinggal di daerah Tanjung Duren Grogol. Waktu massa mau masuk gang, ada barikade masyarakat setempat, jadi kita selamat. Mertua udah jadi warga di situ 30 tahun lebih, dan kita udah membaur. Karena trauma, cici2 gue akhirnya decided migran ke Canada, adik gue sekolah ke China.

Kenneth W. ( tinggal di Keadilan - Jakbar )
Waktu kerusuhan saya di keadilan ngikutin jaga malem itu kalo ga salah 1 minggu penuh cuma tidur beberapa jam doang.. malem musti muter2 siskamling.

SURVIVING MEMORIES

Dengan meraba memori seputar peristiwa Mei 98, salah satu pelukis Indonesia yaitu FX. Harsono dengan sangat profesional menuangkan kepeduliannya dalam karya lukisan dan karya instalasi di sebuah pameran yang dilakukan di Distrik Kesenian 798, Beijing pada tanggal 29 Maret – 15 April 2009. Berikut beberapa koleksi menarik yang dipamerkan.



Hermawan W. ( tinggal di Kelapa Gading - Jakut )
Gue tinggal di kelapa gading, ronda sampe malam, waktu gue denger radio sudah memasuki makro penjarah2 nah kita semua siap siap lagi, semua warga yg lelaki harus tunggu di depan gang. Waktu paginya gue antarin boss ke airport hampir ngak bisa jalan karena semua orang sudah memenuhi jalan tol, akhirnya supir boss buka kaca lemparin duit ke mereka, nah baru mereka minggir, wuih seremnya waktu itu.

Freddi W. ( tinggal di Sawah Lio - Jakbar )
Waktu penembakan, gua lagi di Taman Anggrek - dinner di Samudra bareng temen dari kantor Singapore. Selesai dinner jam 20-an sempat muter di trisakti (gak tahu kalo ada penembakan sore tadi) balik nganter ke Cikarang. Esok pagi jemput mereka di Cikarang - 1 org ada yg mau pulang ke Singapore, saat perjalanan ke airport di kiri kanan jalan tol mulai tampak asap pembakaran2. Dari airport jemput calon istri di Pluit (dia kerja di sana) mau pulang ke rajawali. Jalanan macet, gua stuck di gedong panjang - mobil gua titip di salah satu rumah di sana. Dari gedong panjang, gua dengan Ling jalan kaki sampe Beos baru naik bajaj ke rajawali. Dari rajawali gua dianter naik motor ke jembatan lima - saat turun dari jembatan asemka di perempatan jemb lima lihat massa sudah penuh di jalan, gua turun jalan kaki pulang masuk dari Laksa deket rumah si Ade ke sawah lio. 3 hari 3 malam gua gak bisa tidur, karena denger2 banyak yg berusaha nge-bakar di daerah pemukiman, yg gua inget kalo lagi malam langitnya bewarna kemerahan akibat terangnya api. Jangan lagi deh kejadian seperti itu.

Endang N. ( kantor di Mangga Dua, tinggal di TPI )
Pada kejadian Mei 1998 aku berada di Mangga Dua (kantor saya). Yang ada di rumah saat itu hanya bokap dan pembantu ..... jadi memang itu juga menjadi kekhawatiran aku untuk keamanan di TPI. Kalau di Mangga Dua yang diisu kan kerusakan dan kerugian yang terbesar. Puji Tuhan. Kantor kami adalah satu-satunya ruko yang dilewati lautan api. Kantor kami no. 25, sementara ruko dari no.1-24 diteruskan 26-45 semua dibakar dan dijarah.
Hari itu kami terus berdoa dan bergandengan tangan. Kami katakan dan minta Tuhan yang menjagai. Akhirnya kami melihat tangan Tuhan yang menutupi kantor kami, yang baru peresmian & mulai operasi tgl 14 Februari 2008. Dan selang 3 bulan kena kerusuhan ! Kami seisi kantor naik ke hotel Ibis dan melihat dari atas ......Sejauh pandangan mata kami adalah : API dan ASAP. Sempat terlintas diotak, keadaan ini akan berlangsung berapa lama ? Jangan2 ini akan berlangsung lama, dan berarti kita tidak akan bisa berkumpul dengan keluarga. Sempat rencana mau nekat pulang, tapi batal karena tidak ada kendaraan dan tidak ada seorang Chinese pun yang berani keluar, apalagi wanita !
Kita ngintip dari atas hotel Ibis, massa yang datang berjubel2 dan membawa barang2 yang bisa dibawa termasuk lukisan juga ember. Sempet ada beberapa orang yang melihat ke atas, dan menemukan kami..... berteriak2 sambil menunjuk2 kami seolah2 berkata : itu masih ada mangsa !! Kami bisa lihat mata mereka MERAH... bener2 menyeramkan seperti setan.
Yang ajaib, office boy (pribumi) kita suruh turun dari hotel ibis dan belaga jadi orang2 luar untuk memantau keadaan dan situasi di sekitar kantor kita. Dan dia pulang bercerita yang buat kita salut dengan Tuhan kita ! Bayangkan orang2 yang menjarah sudah di depan kantor dan mau dobrak masuk. Kantor kita pakai rolling door (seperti tetangga2 lainnya) dan digembok dengan 1 gembok. Biasanya harus 2 gembok. Dan mereka dongkrok gembok yang kecil tapi tidak bisa kebuka. Sampai2 rolling doornya pengok tapi gembok gak kebuka ? Kalau bukan Tuhan siapa yang pegang. Massa sempat juga mau masuk lewat ruko tetangga ke atap, tapi berhubung sangat gelap (mati listrik), mereka tidak berani masuk. Mungkin sangkin kesalnya, dari atas (atap lt 4) mereka lempar api masuk ke dalam. Di dalam kita pakai karpet loh. Kalau dengan logika pasti terbakar... habis lah kita. Ajaibnya lagi hanya sepetak yang hangus, ada api tapi tidak bisa menjalar ke tempat lain. Kalau bukan Tuhan yang matikan, siapa lagi ?
J. Juardi ( tinggal di Bandengan Selatan - Jakut)
Gue pada waktu itu kerja di Lautan luas jadi sales. Gue jam 3 sore di suruh pulang sama sekretaris, ada berita yg tidak enak. trus gue langsung jemput pacar di PT Asaba, kalau antar ke rumahnya di jati negara tidak keburu jadi gue ajak ke rumah gue di bandengan selatan. Tadi rencana masih mau jemput adik gue (laki2) di binus, tapi udah di cegat tetangga di stop tidak boleh keluar lagi. Karena sudah ada bakar2an. Gue suruh adik gua nginep di kost temannya, kasihan dia cuma makan indo mie kering seminggu lamanya, tidak bisa keluar takut di gebukin masa.

Robbert S. C. ( tinggal di Tangerang )
Wah kalo waktu mei 98 itu kejadian tgl 11 mei 98 persis anak gua umur 1 bln, jadi ga bisa kemana2 dan deg2an juga karena anak gua masih kecil & ga punya surat lagi. Mungkin kalo udah ada pasport udah kabur tapi ga bisa. Wah serem banget. Gua udah di tangerang dkt lippo. Waktu itu kan lippo karawaci kan habis juga dibakar. Wah pokoknya horor deh....

L. Ali ( keluarga tinggal di Kemurnian - Jakbar )
Waktu itu pas lagi training di Franfurt, Germany. Gua inget pas liat CNN, ngeri tuh.....mudah2an gak sekali lagi.

Haries S. ( tinggal di Muara Karang - Jakut )
Wah, waktu itu kayanya gua lagi gak kerja deh . . . baru abis di PHK. Puji Tuhan gua sama sekali gak kena imbas apa2, soalnya muara karang / pluit dijaga sangat ketat meski masih ada toko di raya muara karang yang di bakar.Tapi untuk ke komplek2 rumah aman tuh, soalnya gua masih inget ada sekompi tentara dan masyarakat pemilik rumah yang jaga di setiap komplek di muara karang.

Wiwik P. (tinggal di Muara karang - Jakut )
Aku ada di Jakarta tinggal di muara karang. Rumah aku sih ga kenapa2 tp ada tmn yg rumahnya di Pantai Indah Kapuk dijarah & dibakar. Kita yg tinggal di muara karang cuman berjaga2 aja. Puji Tuhan ga terjadi apa2.

‘ 98.08 ‘

Antologi 10 film pendek yang disuarakan oleh generasi yang mengalami dan mungkin juga yang menggerakkannya, sehingga antologi ini bisa dibilang mewakili persepsi paling utuh tentang peristiwa Mei 1998 dan segala keterkaitannya yaitu persoalan etnis Cina dan kaitannya dengan pembentukan bangsa dan politik negri ini.

Di Mana Saya? (Anggun Priambodo), menampilkan sebuah kenangan kolektif : di mana Anda berada pada 13 Mei 1998? Yang Belum Usai (Ucu Agustin), karya dokumenter yg mengisahkan perjuangan Sumarsih, ibu dari korban peristiwa Semanggi (Nov 1999). Happiness Morning Light (Ifa Ifansyah), menggambarkan sebuah diaspora-in-the-making, buah dari hilangnya salah satu elemen penting kehidupan: rasa aman, pada peristiwa Mei98. Kemarin (Otty Widasari), mengenang peristiwa Mei 1998, dari kaca mata seorang mahasiswa partisipan unjuk rasa di Gedung DPR MPR. Sugiharti Halim (Ariani Darmawan), sketsa mengenai persoalan identitas etnis Cina- sebuah nama. Bertemu Jen (Hafiz), mengajukan strategi pemaknaan terhadap peristiwa Mei 1998, yang sangat amat beragam. A Letter of Unprotected Memories (Lucky Kuswandi), memperlihatkan problematik etnis Cina sbg orang yang terpisah dari masa lalu, sejarah, dan bahasanya. A Trip to The Wound (Edwin), membahas soal paling sensitif pada saat kerusuhan – sebutlah pemerkosaan. Kucing 9808, Catatan Seorang Demonstran (Wisnu SP), jurnal bekas seorang jendral lapangan dalam demonstrasi mahasiswa 1998. Our School, Our Life (Steve Pillar Setiabudi), mencoba merekam sebuah proses demokrasi, ketika sedang mencari bentuknya.

Jessica J.P. ( keluarga tinggal di Gg. Tikar - Pasar Glodok Selatan )
Hari kedua kerusuhan menjadi hari traumatis bagi kami sekeluarga.
Pagi itu Mama sudah terjebak di satu area dan tidak bisa pulang ke rumah, sehingga akhirnya check-in di sebuah hotel terdekat. Menjelang siang, rumah kami mulai termakan kobaran api yang berasal dari gedung pertokoan sekaligus hotel di seberang rumah kami. Awalnya Papa dan adik laki-laki saya masih sempat memadamkan kobaran api di teras depan kamar saya dan ruang tamu. Karena kondisi yang makin tidak kondusif, Papa dan adik saya bermaksud meninggalkan rumah dan mengungsi ke rumah saudara. Tapi ketika mereka akan meninggalkan rumah, mereka baru melihat dan menyadari kalau bagian depan rumah kami sudah hampir habis dilahap si jago merah. Rasanya rumah kami tidak mungkin terselamatkan lagi, mengingat ketika itu tak satu pun mobil pemadam kebakaran terlihat beroperasi sejak sehari sebelumnya.
Papa dan adik saya keluar rumah tanpa membawa apapun, kecuali pakaian yang mereka kenakan. Untungnya dokumen penting sudah dititipkan di rumah saudara sehari sebelumnya. Itupun hanya berupa surat-surat lahir, kewarganegaraan, dan paspor. Rapor dan ijasah kami tak satu pun yang selamat.
Masih segar dalam ingatan saya percakapan dengan Papa pagi itu. Seumur hidup saya belum pernah saya mendengar suara Papa yang begitu bergetar. Saya bisa menangkap getar ketakutan dalam suara dan nada bicaranya. Papa bukan seorang yang gampang menunjukkan perasaannya. Jadi saya tahu persis pagi itu Papa betul-betul mengalami sesuatu yang luar biasa dalam hidupnya.
Saya sempat berdoa di ruang doa household kami. Doa saya waktu itu seperti ini, “Tuhan, kalau boleh, biarlah api itu lewat dari rumah kami. Tapi bukan kehendakku, melainkan kehendakMulah yang terjadi. Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku seturut dengan kehendakMu…”
Nyatanya...rumah kami habis terbakar. Keluarga saya turut menjadi korban dalam kerusuhan itu. Saya sedih. Saya marah...pada para pelaku kerusuhan. Namun saya tidak marah ataupun menyalahkan Tuhan.

Tjiaw Phin L. ( tinggal di Pinangsia – Kota )
Waktu tahun 98, gua lagi hamil 5 bulan anak ke 2 . Sempet panik sich, tapi yach syukur puji Tuhan semuanya aman dan ga ada satupun yang kurang. kita orang cuma denger suara orang nyeret barang aja dan suara tembakan karena ga berani keluar. Daerah glodok kan banyak toko jadinya mereka sibuk ngejarah di glodok plaza dan sekitarnya. So rumah kita-kita aman-aman malah dekat daerah gua.. di tangki ..banyak dari mereka yang membeli barang jarahan karena harganya murah banget.

Wijaya P. ( tinggal di Cikarang )
Iye, gua di cikarang, tapi disini dijagain ama tentara.

Hariyanto ( tinggal di Kebayoran Baru - Jaksel)
Boleh dibilang saya sedikit "beruntung" saat itu tanggal 13-14mei 98 saya tidak sedang bersekolah karena libur baru selesai ujian dari sekolah, dirumah bilangan kebayoran baru Jakarta. Semua anggota keluarga ada di rumah.
Beberapa hari sebelum kerusuhan itu terjadi , di Semanggi dan jalan jalan utama di Jakarta selalu diwarnai oleh demo mahasiswa dan masyarakat yang menginginkan perubahan pemerintahan. Tegang? Pasti. Dari siaran yang radio dan televisi mengabarkan, jika tidak terlalu mendesak, agar tidak perlu melakukan aktifitas di luar rumah, ada apa gerangan di luar sana? Di awali bakar2 ban mobil di jalan raya yang, membuat langit jakarta sekan menjadi gelap, di tambah bergabungnya ribuan masa dengan mahasiswa. Beberapa kendaraan menjadi korban, dibakar masa .entah ide dari mana,Toko, ruko dan rumah sudah mulai dijarah di sebagian Jakarta. Kacau. Aparat keamanan seakan "membiarkan dan memberikan" jalan bagi para penjarah beraksi, yah mungin jumlah mereka tidak sebanding dengan jumlah massa. Tindakan tegas di harapkan oleh masyarakat, tapi mana? Hanya dalam tempo waktu 2 x 24jam, Jakarta sudah dibuat menjadi kota "mati". Beruntung bagi yang bisa mengungsi, lari keluar kota, tapi bagi yang tidak bisa....Pemerintah pun hanya bisa tutup mata, tutup telinga? Sudah 10 tahun pun dalangnya masih bebas.
Nasi sudah jadi bubur. Berdoa dan berharap kejadian seperti itu tidak terulang kembali.

Kurniawan K. ( keluarga tinggal di Gg. Kecap, Pancoran - Jakbar )
Waktu itu gua di Singapur, mengikuti perkembangan peristiwa horor tersebut. Tidak berada di dalam peristiwa tersebut, justru lebih mencekam. Karena media komunikasi (TV, radio dan internet) hanya menyiarkan berita2 buruk. Gua panik banget, padahal situasi mereka di Jakarta tidak separah yang gua bayangkan.
Gua minta mereka hijrah ke Singapura. Landlord gua, sangat baik, bersedia menampung seluruh keluarga gua, jika dibutuhkan. Tapi bokap dengan tegar bilang enggak. Lah, kalo bokap gak mau berangkat, lebih baik semuanya tidak berangkat kan? Jadi gua pasrahkan keselamatan mereka di tangan Tuhan dan dalam perlindungan Bunda Maria. Berkat doa Bunda Maria, Tuhan sungguh menjaga mereka dengan baik.

Arief H. ( kantor di P.Jayakarta, tinggal di Kepa Duri - Jakbar )
Gue pulang kerja dari Pangeran Jayakarta ke Kepa Duri ... ngak bisa lewat Beos, Angke, Grogol .... musti keliling Jakarta dulu via Gunsa, Sunter, Kelapa Gading, Bypass, Salemba, Menteng, Monas, Tomang, finally baru dech masuk gang2 kecil samping TA ke Kepa Duri, dari TA bisa keliatan kalo Grogol dah jadi lautan api. Besoknya gue masih nekad gawe, lewat Angke, banyak bangkai mobil bekas dibakar .... jadi mending pulang aja ....

Wiriawaty T. ( tinggal di Gg. Asem, pinggir tol Kebon Jeruk - Jakbar )
Pas kerusuhan mei, gua ada di Jakarta, ndak berani keluar rumah, gang depan rumah dijaga ketat sama warga betawi (warga sekitar) sehingga orang2 yg mau bikin rusuh tidak bisa masuk. Jaga malam bergantian, pokoknya warga tidak dikenal tidak bisa masuk deh..

Janto T dan Maria S.F. ( Usaha di Jl. Jembatan Lima Raya – Jakbar )

Pada hari Selasa, tgl 12 Mei 1998, aku main Bulutangkis sd jam 23.00 di daerah Pola Bugar ( Kedoya ), Polsek Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Sebelum pulang, aku mampir ke Pos Polisi di depan Universitas Trisakti di sebelah pom bensin, karena disana banyak teman anggota Polisi Polsek Tambora. Aku melihat banyak mahasiswa berkumpul katanya ada mau keributan ( bakar pom bensin segala ). Tapi malam itu tidak terjadi apa apa,,,lalu aku pulang ke rumah dengan santai pada jam 02.30.

Pada tgl 13 Mei 1998 , hari Rabu pagi hari yang cerah. Aku memulai usaha seperti biasa pada jam 07.00 di daerah Jl. Jembatan Lima Raya, Jakarta barat,
Usahaku adalah Distributor Benang Bordir “ BOUTIQUE “ dengan karyawan pada waktu itu berjumlah sekitar 8 orang.

Pada jam 10.30 aku mendengar informasi kerumunan massa sekitar Universitas, lalu aku langsung check TV. Perasaanku mulai tidak enak, karena aku ingat sebelum tanggal 12 Mei 1998 ada kejadian di depan toko dan di beberapa tempat lain, yaitu para supir taksi dan Mikrolet M10 jurusan JB 5 – Tnh Abang serta para tukang becak berkata “ LOE CINA ENAK AJA YA...NTAR LOE RASAIN...GUA BANTAI ...RASAIN LUH “ dan ada yang berkata kepadaku, “ EH CINA ...HIDUP LOE CUMA 1 HARI LAGI...SIAP SIAP AJA ...GALI KUBURAN LOE “. Dan ada beberapa yang melapor kepadaku dikatain ” EH LOE CINA...LIHAT AJA BESOK,,,GUA BAKAR LUH RUMAH LOE ,,DAN GUE PERKOSA ( maaf, ini bukan kata sebenar nya, ini sudah diperhalus ) LOE “. Dan juga langganan tukang ojek sepeda aku yang baik hati berpesan” KO... JANGAN KELUYURAN AJA BESOK ...JAGA KELUARGA...YANG CEWEK TERUTAMA “.
Wah kontan pikiran aku bercampur aduk , apa iya ya...akan terjadi sesuatu yang mengerikan ?

Tapi kami semua yang menyaksikan acara TV tersebut merasa tidak akan terjadi apa-apa. Aku juga tenang saja, pikirku masa sih aparat kepolisian dan tentara ( pada waktu itu belum dipisah komando, masih dibawah kekuasan komando tentara) tidak berbuat apa apa. Selain di TV, aku juga melihat sendiri sudah banyak polisi dan tentara yang mengamankan di sekitar Universitas Trisakti ( karena malam hari sebelumnya aku berada disana ).

Pada jam 10.45 ada informasi Pom Bensin di depan Kampus Trisakti dibakar. Aku memantau lewat TV, sambil melayani konsumen. Kontan pembeli yang mendengar info ingin cepat bergegas pulang, dan keadaan di jalanan di jalan jembatan lima langsung sepi. Kendaraan umum dan pribadi berkurang, jarang yang lewat padahal biasanya macet. Wah aku semakin curiga dan was was.
Lalu menyusul kejadian, mahasiswa berorasi dan juga ada Pak Amin Rais berpidato yg waktu itu dianggap sebagai Bapak reformasi.
Para mahasiswa bergerak menuju balai sidang senayan ( gedung hijau bundar ) , dan mereka berkerumunan disana. Belum terjadi apa apa.

Jam 13.00, para mahasiswa bertindak Anarkis…dengan mendorong dan meneriakan yel “ TURUNKAN SOEHARTO“ , dan mereka mendobrak masuk ke balai sidang senayan, dan menguasai seluruh nya termasuk kubah diatas nya, dan ada yang menancapkan bendera diatasnya pada waktu itu terlihat di TV.

Sekitar jam 14.00, kerumunan massa di sekitar Universitas Trisakti mulai bergerak kearah Roxi. Dan begitu jam 15.00 (seperti ada komando yg tidak tahu darimana asalnya), massa langsung menuju daerah Cideng (pemadam kebakaran) dan daerah Komplek Jembatan Lima (yang dekat prapatan arah Roxi)

MENGENANG ..... ROSSON KUSNADI (ALM)

Memperingati 11 tahun Tragedi Kemanusiaan Peristiwa Mei 1998 sama dengan mengenang 11 tahun kepergian rekan kita, Rosson Kusnadi. Saya mempersembahkan jurnal renungan ini secara khusus untuk mengenang beliau yang telah pergi mendahului.

Terus terang saya ga kenal secara pribadi dengan dia, waktu jadi adik kelasnya di SMAK Ricci dulu. Namun saya masih ingat samar wajahnya dengan model rambutnya yg belah pinggir conventional dan berkaca mata. Juga saya ingat, dia pernah menjadi ketua panitia bazar ilmiah di sekolah.

Rosson adalah putra bungsu dari 4 bersaudara. Beliau adalah alumni SMAK Ricci angkatan 87 dan merupakan seorang siswa yang serius, aktif di OSIS, ga usil, ga suka nyontek dan sangat menonjol karena kepandaiannya. Nilai-nilai di sekolah selalu bagus, juga di Universitaspun prestasi Rosson sangat baik terbukti dengan menyelesaikan S1 Akuntansi dengan singkat hanya dalam waktu 4 tahun. Rosson pun mendapat rekomendasi dari Dosen untuk langsung bekerja di KPMG. Dari KPMG, Rosson kemudian mengambil peluang karir di AKR.

Kabar burung yang mau saya ingkari itu ternyata benar adanya, bahwa Rosson adalah salah satu korban penganiayaan pada hari pertama kerusuhan Mei 98. Bermobil sepulang dari kantor, dia dicegat massa dan dipukuli. Kemudian sempat diselamatkan oleh tukang ojek yang mengantar ke rumahnya. Ditengah situasi yang kacau dan penuh ketidakpastian, kondisi Rosson justru semakin kritis, untungnya menjelang sore ada seorang teman pribumi yang berani mengantar Rosson ke Rumah Sakit. Sesampainya di Rumah Sakit Graha Medika, dokter jaga sulit ditemukan dan Rosson yang dicurigai geger otak sudah tidak sadarkan diri. Akhirnya beliau berpulang ke rumah Bapa, keesokan harinya setelah seluruh keluarga berkumpul dan memanjatkan doa.

Seandainya….yah seandainya saja kita mampu memutar balikkan waktu, saya yakin semua dari kita akan berharap tragedi Mei 98 ini ga pernah terjadi. Sehingga …Rosson dan para korban penganiayaan lainnya masih ada disini bersama kita, juga Ita dan para mahasiswa yang tertembak, dan gadis seperti May tidak akan pernah punya mimpi buruk yang menghantui tidur mereka. Tapi karena nasi sudah menjadi bubur basi, luka sudah tergores dalam sejarah bangsa…apakah yang harus kita lakukan selanjutnya? Apa sebenernya harapan rekan kita Rosson dan korban lainnya dari kita sekarang?

Melupakan mereka jelas bukan sebuah opsi. Kita yang telah diberi label sebagai survivor tragedi Mei 98 (entah karena sebuah perjuangan atau sekedar keberuntungan) adalah saksi sepenggal sejarah pelanggaran Hak Asasi Manusia di bumi tercinta ini. Dan seorang survivor sejati akan tetap mengejar masa depan tanpa pernah melupakan kejadian masa lalu, mereka akan belajar dari mimpi buruknya untuk memetik buah-buah kewaspadaan.

Baiklah kita tetap mengenang peristiwa Mei 98 dengan dewasa dan bijaksana. Kita tunjukkan kepedulian kita dalam bentuk sederhana, yang sesuai amanat hati dan keterbatasan kita.

Karena yang terpenting ...............
janganlah kita pernah lupa !
'We survive by remembering....'

Teristimewa untuk keluarga besar Kusnadi (Ibu Rosson, Rosita, Robert dan Pastor Ronny), perkenankan saya mewakili Alumni Ricci Angkatan 89 menghaturkan belasungkawa tertunda yang belum pernah terucap, untuk penghormatan terakhir kepada putra kebanggaan kalian dan kakak kami semua….Rosson.


catatan kecil :
Terima kasih untuk teman2, untuk setiap butir debu yang telah dipersembahkan.
Terima kasih juga untuk rekan Nexon dan para Alumni Ricci angkatan 85-89 yang telah memberi sumbangan waktu, saran dan informasi mengenai Rosson Kusnadi.